Kamis, 02 April 2009

Evaluasi Afektif

EVALUASI AFEKTIF
HAKIKAT DAN METODE PENILAINNYA


A. PENDAHULUAN

Pembelajaran adalah kegiatan yang disengaja (sadar)oleh peserta didik dengan arahan, bimbingan atau bantuan dari guru untuk memperoleh suatu perubahan. Perubahan yang diharapkan meliputi: aspek kognitif (pengetahuan), afektif (sikap dan tingkah laku) dan psikomotorik (gerakan ragawi/ketrampilan).
Perubahan yang diharapkan itu yang dinamakan dengan kompetensi (kemampuan melakukan sesuatu), dirumuskan sebelum dalam desain pembelajaran. Rumusan tersebut biasa dinamakan dengan tujuan pembelajaran (tujuan Intruksional, sekarang Kompetensi). Mulai dari kompetensi dasar, kompetensi mata pelajaran, kompetensi lintas didiplin dan kompetensi lulusan yang dalam silabus kemudian disebut dengan indikator kompetensi dalam satuan rencana pelaksanaan pembelajaran.
Untuk mengetahui sejauh mana tujuan pembelajaran atau kompetensi yang diharapkan tercapai oleh peserta didik diperoleh melalui evaluasi.
Evaluasi berasal dari kata to evaluate yang berarti menilai. Dalam dunia ekonomi kata nilai biasanya dipautkan dengan harga. Nilai artinya power in exchange dan harga atau price artinya give much in exchange.
Evaluasi adalah kata Indonesiasi dari kata evaluation (Inggris) yang diterjemahkan menjadi penilaian. Evaluasi pembelajaran mengandung pengukuran (measurenment) dan penilaian(evaluasi).
Measurenment merupakan suatu proses untuk memperoleh gambaran beberapa angka dan tingkatan ciri yang dimiliki individu. Penilaian (evaluasi) merupakan suatu proses mengumpulkan, menganalisis, dan menginterpretasikan informasi guna menetapkan keluasan pencapaian tujuan oleh individi.
Pengukuran menjawab pertanyaan how much sedangkan penilaian menjawab What Value. misalnya dalam pelajaran PAI SMA kelas X untuk aspek Al Qur’an, kompetensi yang diharapkan adalah peserta didik membaca Q.S. Al Baqarah ayat 30 dengan 5 indikator dan 10 soal yang diujikan. Dari soal-soal tersebut peserta didik hanya dapat menjawab 6 pertanyaan (tugas).
Bila peserta didik tersebut hanya mampu menjawab 6 soal dari sepuluh soal yang diujikan kemudian mendapat skor 6 atau 60, maka angka tersebut adalah skor hasil pengukuran. Dari skor tersebut kemampuan peserta didik diklasifikasikan dengan sebutan ‘sedang’ (atau C). Predikat kemampuan siswa dengan sebutan sedang tersebut merupakan penilaian.
Evaluasi atau penilaian adalah salah satu kegiatan yang harus dilakukan oleh seorang guru dalam kegiatan pembelajaran. Dengan penilaian guru dapat mengetahui perkembangan proses dan hasil belajar, intelegensi, bakat khusus, minat, hubungan sosial, sikap dan kepribadian peserta didik.
Term evaluasi dalam wacana keislaman tidak ditemukan padanan yang pasti, tetapi terdapat term-term tertentu yang mengarah kepada makna evaluasi. Term tersebut antara lain:
1. Al Hisab, Memiliki makna mengira, menafsirkan, menghitung, dan menganggap. (Lihat Q.S. Al Baqarah, 284)
2. Al Bala’, memiliki makna cobaan, ujian. (lihat Q.S. Al Mulk : 2)
3. Al Hukm, memiliki makna putusan atau vonis (lihat Q.S. An Naml 78 )
4. Al Qadhi, memilki arti putusan (lihat Q.S. Thaha :72)
5. Al Nazhr, memiliki makna melihat ( lihat Q.S. An Naml 27)
6. Al Imtihan memiliki arti ujian
Pada perkembangannya, model pendidikan selalu diorientasikan pada pembentukan karakter anak yang utuh baik diri aspek kognitif, afektif, maupun psikomotoriknya. Dalam aspek kognitif misalnya, anak didik dituntut untuk memiliki wawasan yang luas baik dalam ilmu-ilmu agama maupun ilmu-ilmu umum (Sain). Pada aspek afektif anak dituntut memiliki aqidah yang benar, bersikap positif, misalnya: santun, toleran, jujur, berani, disiplin, rajin, cinta kasih sesama, bertanggung jawab, mandiri. Dalam aspek psikomotorik, misalnya anak akan terbiasa mencintai membaca dan menghafal Al-Qur’an maupun Al-Hadits, mampu melaksanakan praktek ibadah secara benar, bertindak trampil dan kreatif, serta selalu mengusahakan kesehatan diri dengan cara melatih raga secara berkala.
Dalam pendidikan agama Islam yang memiliki tujuan utama menanamkan nilai-nilai agama pada peserta didik, ranah afektif tidak hanya penting, tetapi seharusnya juga menjadi fokus utama pada seluruh jenjang pendidikan. Dari Playgroup, SD, SMP, SMA bahkan sampai perguruan tinggi.
B. PEMBAHASAN
1. Hakekat Aspek Afektif
Pengertian afektif tidak terlepas dari pemikirian Taksonomi (klasifikasi) Benjamin S. Bloom, David R Krathwohl dan ahli-ahli pendidikan lainya. Bloom misalnya memperkenalkan kita pada ranah kognitif (ranah cipta) dalam teknologi pembelajaran dengan tahapan: pengetahuan (knowledge) pemahaman/pengertian (comprehension) aplikasi (application) analisis (analysis) sintesis (synthesis) dan evaluasi (evaluation).
Taksonomi Krathwohl memperkenalkan kita pada ranah afektif (ranah rasa) dengan tahapan: menerima (receiving) menjawab/ menanggapi (responding) menghargai (valuing) mengorganisasikan/ mengintegrasikan (organizing) pemeranan sesuai dengan nilai baru (characterization by value).
Taksonomi Harrow memperkenalkan kita pada ranah psikomotor (ranah karsa) dengan tahapan: gerakan refleks (reflex movements) gerakan dasar (basic fundamental movements) gerakan menanggapi yang menunjukkan pengertian (perceptual abilities) kemampuan jasmani (physical abilities) gerakan terlatih (skilled movements) gerakan yang berkesinambungan (non-discursive movements) yang berbeda dengan taksonomi psikomotor menurut Simpson: perception set guided response mechanism complex overt response adaptation origination.
Taksonomi penampilan manusia (human performance) dikemukakan oleh Fleishman dan Quaintance (1984) dengan penambahan ranah teknologi penampilan manusia (human performance technology) oleh Ronald L. Jacobs (1988).
Lebih jauh penjelasan dalam domain afektif adalah sebagai berikut:
1. Penerimaan (Receiving), yaitu kepekaan terhadap rangsangan atau fenomena tertentu. Termasuk dalam hal ini adalah :
a. Keasaran (Awareness)
b. Keikhlasan menerima (Willingness to receive)
c. Perhatian yang terarah atau terpilih (controlling or selected attention)
2. Penanggapan (Responding), yaitu dorongan untuk memberikan tanggapan kepada suatu fenomena atau rangsangan. Termasuk dalam hal ini adalah :
a. Izin untuk merespon (acquscence in responding)
b. Keikhlasan untuk merespon (willingness to response)
c. Kepuasan di dalam merespon (satisfaction in response)
3. Penghargaan (Valuing), rasa hormat kepada suatu fenomena atau nilai tertentu. Termasuk di sini adalah :
a. Penerimaan terhadap nilai (acceptance of value)
b. Preferensi nilai (preference of value)
c. Keterlibatan (commitment)
4. Pengaturan (Organizing), yaitu penentuan hubungan antara nilai-nilai atau sikap-sikap dalam suatu situasi. Termasuk dalam hal ini adalah :
a. Konseptualisasi nilai (conceptualization of value).
b. Organisasi nilai (organization of value system).
5. Karakterisasi nilai atau seperangkat nilai (characterization by Value or Value Complex), yaitu proses apresiasi dan internalisasi nilai. Hal ini meliputi :
a. Himpunan yang tergeneralisasi (generalized set)
b. Karakterisasi (characterization)
Aspek afektif memainkan peran penting dalam kehidupan manusia, terutama dalam pembuatan keputusan, persepsi, interaksi, komunikasi dan intelegensi
Pada dasarnya karakteristik manusia terkait dengan cara berfikir, berindak, dan merasa (thingking, acting and feeling), yang mencerminkan karakteristik kognitif, psikomotor, dan afektif. Karakteristik afektif menunjukkan sikap yang bertipikal merasakan atau mengekspresikan emosi. Dalam kaitan dengan tujuan pendidikan. Bloom dan kawan-kawan menyatakan bahwa afektif merupakan tujuan yang menekankan persaaan, emosi, atau tingkat penerimaan dan penolakan.
Afektif dapat bervariasi dari perhatian yang sedarhana untuk memilih obyek sampai kualitas karakter dan kesadaran yang komplek. Tujuan afektif tersebut juga diekpresikan sebagai minat, sikap, apresiasi, nilai dan emosi. Hal ini sejalan dengan yang disampaikan Propham ketika menjelaskan bahwa prilaku afektif mencerminkan dalam sikap, minat dan nilai seseorang.
Sikap, dalam kaitan dengan agama sikap merupakan kecenderungan untuk merespon secara positif atau negatif obyek keagamaan. Sikap memiliki aspek kognitif (keyakinan atau pengetahuan), afektif (emosional atau bertindak), serta kinerja (prilaku atau kecenderungan bertindak). Ketiga ranah tersebut saling terkait sehingga sikap akan ada hanya bila seseorang mengalami dorongan untuk merespon secara behavioral suatu obyek sesuai dengan keyakinannya dan hasil evaluasinya terhadap obyek tersebut.
Dalam pendidikan, banyak jenis sikap positif yang perlu dikembangakan oleh guru, diantaranya adalah sikap terhadap pelajaran, sikap terhadap belajar, sikap terhadap diri, sikap terhadap mereka yang berbeda dari siswa. Sikap memiliki potensi untuk mempengaruhi proses belajar, prilaku di luar kelas, kesediaan mengikuti pelajaran yang lebih lanjut. Karena itu, sikap sangat penting bagi keberhasilan pendidikan agama maupun kehidupan keagamaan sehingga perlu dikembangkan sikap keagamaan yang positif pada diri siswa.
Minat, minat merupakan kesenangan untuk melakukan suatu hal tertentu. Dalam proses pembelajaran, minat terkait dengankesediaan siswa untuk melakukan aktivitas belajar sehingga sangat berpengaruh pada hasil belajarnya. Siswa yang memiliki minat yang tinggin cenderung selalu berupaya untuk melaksanakan kegiatan yang terkait dengan minat tersebut.
Nilai, nilai merupakan hal yang penting dan berharga yang diletakkan pada aktivitas meupun objek, kesuksesan untuk tujuan atau pandangan hidup, keyakinan tentang tindakan sesuai dengan kesukaan dan konsepsi yang diharapakan yang secara nyata mempengaruhi prilaku. Dalam pendidikan agama Islam, target nilai yang berupa gagasan, sikap maupun prilaku harus dikembangkan meliputi nilai-nilai universal seperti kejujuran, integritas, keadilan, kebebasan, maupun nilai-nilai keislaman yang spesifik misalnya nilai asusila dan pergaulan.
2. Evaluasi Afektif
Salah satu fungsi evaluasi adalah untuk mengetahui atau mengumpulkan informasi tentang taraf perkembangan dan kemajuan yang diperoleh peserta didik dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam kurikulum. Dalam setiap tindakan pendidikan selalu menghendaki hasil. Hasil pendidikan dapat terlihat dengan menggunakan evaluasi. Seorang guru agama melakukan evaluasi di sekolah mempunyai fungsi sebagai berikut :
a. Untuk mengetahui peserta didik yang mana yang terpandai dan terbodoh di kelas
b. Untuk mengetahui apakah bahan yang telah diajarkan sudah dimiliki oleh peserta didik atau belum
c. Untuk mendorong persaingan yang sehat antara sesama peserta didik
d. Untuk mengetahui kemajuan dan perkembangan anak didik setelah mengalami didikan dan ajaran
e. Untuk mengetahui tepat atau tidaknya guru dalam memilih bahan, metode, dan berbagai penyesuaian dalam kelas

Praktik evaluasi pendidikan Agama Islam di sekolah-sekolah sangat dominan hanya pada aspek kognitif dan sebagian kecil aspek psikomotor. Padahal untuk kepentingan pembelajaran, evaluasi kognitif tidak dapat mengungkap interaksi pembelajaran antar guru dan siswa. Interaksi tersebut hanya dapat diungkapkan melalui evaluasi afektif. Karenanya aspek ini sangat penting dalam mengungkap efesiensi dan efektivitas suatu pembelajaran.
Pengukuran aspek afektif secara mendasar berbeda dari pengukuran aspek kognitif maupun psikomotor. Kedua aspek yang disebut terakhir mengukur kinerja maksimum, sedang pengukuran afektif mengukur kinerja tipikal.
Dalam pengukuran kinerja tipikal, jawaban yang benar atau ideal untuk masing-masing butir atau pertanyaan adalah jawaban yang benar bagi peserta tertentu, meskipun secara pendidikan dan sosial (termasuk agama) mungkin bukan merupakan jawaban yang diharapkan.
Dalam merespon pertanyaan atau butir intrumen, diharapkan menjawab secara jujur. Konsekuensinya meskipun ada perbedaan antar satu peserta dengan peserta lain, tidak ada jawaban yang dianggap salah, selama sesuai dengan kenyataan yang menunjukkan kejujuran mereka.
Secara teoritis, ada empat jenis instrumen evaluasi : tes,wawancara, pengamatan dan angket. Namun yang ditawarkan oleh oleh para ahli ada beberapa teknik evaluasi yang mempunyai korelasi dengan evaluasi afektif antara lain : observasi, teknik unobtrusif, interview, pertanyaan terbuka, kuesioner tertutup, skala
3. Metode-metode Evaluasi Afektif
a. Obsevasi (observation)
Bloom dkk mengatakan bahwa Teacher directly observe their students every day in variety of setting, under all types of conditions.
(Guru dapat melakukan teknik ini untuk mengobservasi para siswa dalam berbagai situasi dan setting). Teknik ini memungkinkan pengukuran secara langsung perilaku afektif dalam keseharian, misalnya perhatian pada pelajaran agama, sikap pada kebersihan, kejujuran, toleransi. Bila dilakukan dalam waktu yang cukup lam hasil yang diperoleh akan akurat dari pada paper and pencil.
b. Teknik Unobtrusif (Unobtrusive techniques)
Merupakan salah satu bentuk observasi yang dilakukan tidak secara langsung pada perilaku siswa, tetapi pada sesuatu yang dapat memberikan petunjuk tentang perilaku siswa. Seperti catatan tentang siswa (daftar hadir, yang dapat menunjukkan motivasi pada pelajaran), karya siswa (buku catatan, makalah, sebagai petunjuk tentang minat, sikap pada kebersihan), bukti fisik (phisycal evidence) antara lain tempat duduk, sebagai petunjuk tentang perhatian. Teknik ini mempunyai keunggulan karena obyek yang diamati tidak terpengaruh oleh kehadiran pengamat sehingga lebih alami. Menurut Ramayulis observasi dapat dilakukan dengan cara penilaian observasi prilaku siswa. Hal ini dilakukan dengan menggunakan buku catatan khusus tentang kejadian- kejadian berkaiatan dengan peserta didik selama di sekolah. (critical incidentism record).
Namun aspek afektif yang bisa diamati sangat terbatas karena perilaku yang tercerminkan juga terbatas.


c. Wawancara (the Interview)
Merupakan teknik yang melibatkan tatap muka antara interviewer dengan siswa. Intervewer mengajukan pertanyaan langsung kepada responden dan langsung mendapatkan jawaban. Pertanyaan yang diajukan interviewer dapat berupa pertanyaan terbuka, dimana siswa dapat menjawab dengan bebas, atau dengan pertanyaan tertutup dimana jawaban responden telah disediakan sehingga responden dapat memilih diantara jawaban alternatif yang tersedia. Teknik ini mungkin memberikan pewancara untuk menggali informasi secara flesibel, namun hal ini memiliki kelemahan karena bisa saja responden tidak berlaku jujur dalam menyempaikan informasi.
d. Skala ( Scales)
Skala merupakan teknik yang mendiskripsikan tingkatan, level, atau mendiskripsikan variasi derajat karakteristik individu. Teknik ini sangat sesuai digunakan untuk menggali karakteristik responden yangbertingkat atau kontinim, yang merentang dari sangat kuat ke sangat lemah, dari sangat positif ke sangat negatif dan sebagainya. Dengan teknik ini responden diminta untuk memilih suatu point dalam skala yang sesuai dengan kondisi dirinya.
Contohnya seputar pertanyaan tentang matematika (mungkin juga dapat diterapkan dalam pelajaran Pendidikan Agama Islam) antara lain :
1. Would like to be mathematician.
a. Strongly disagree
b. Disagree
c. Don’t know
d. Agree
e. Strongly agree
2. Would like to study mathematics
a. No more
b. One more year
c. Two more years
d. Three more years
3. Outside of school, I would like to use mathematics
a. Every chance I get
b. Often
c. Sometimes
d. Hardly ever
e. Never

Pertanyaan-pertanyaan diatas merupakan pertanyaan yang mengukur sebagian dari beberapa aspek dalam diri siswa (responden), sedangkan skala-skala yang ditujukan untuk mengukur aspek afektif yang lain dapat dipergunakan skala likert, Thurston, Gutman dan sebagainya.
Ramayulis memberikan teknik praktis penggunaan skala deferensial sematik dan skala likert.
1. Skala Deferensial Semantik (semantic defferensial techniques)
Adapun langkah-langkahnya antara lain :
a. Menentukan obyek sikap yang akan dikembangkan skala. Misalnya : penghijauan lingkungan
b. Memilih dan membuat daftar dari konsep dan kata sifat yang relefan dengan obyek penilaian sikap. Misalnya menarik, penting, menyenangkan, bermanfaat dan sebagainya
c. Memilih kata sifat yang tepat dan akan digunakan dalam skala
d. Menentukan rentang skala pasangan bipolar dan penskorannya
Berikut skala deferensi semantik dan cara penilaiannya
Penghijauan lingkungan sekolah anda
Menarik membosankan
Penting tidak penting Menyenangkan tidak menyenangkan Mudah sukar
Petunjuk : berilah tanda (V) pada skala yang sesuai dengan pandangan anda
Peskoran untuk skala tersebut dapat dilakukan dalam rentang 1 – 5, arah paling kiri di skor 5 (paling besar) sedangkan arah paling kiri skor 1 (paling kecil)
2. Skala Likert
Langkah-langkah skala likert sebagai berikut ;
a. Menentukan obyek sikap yang akan dikembangkan
b. Menyusun kisi-kisi instrumen (skala sikap)
c. Menulis butir-butir pernyataan, dengan memperhatikan kaedah
1. Hindari kalimat yang mengandung banyak interpretasi
2. Rumusan pernyataan hendaknya singkat
3. Satu pernyataan hendaknya hanya mengandung satu pikiran yang lengkap
4. Sedapat mungkin, pernyataan hendaknya dirumuskan dalam kalaimat sederhana
5. Hindari penggunaan kata-kata ; semua, selalu, tidak pernah dan sejenisnya
6. Hindari pernyataan tentang fakta atau dapat diinterpretasikan sebagai fakta ( misalnya Kebun Raya letaknya di bogor )
d. Antara pernyataan positif dan pernyataan negatif hendaknya relatif berimbang

Berikut contoh skala likert dalam sikap keagamaan siswa

No Pernyataan SS S N TS STS
1 Semua agama benar, karena semua adalah jalan menuju Tuhan
2 Jika terlalu berat sebaiknya tidak usah beribadah
3 Setiap bertemu sesama muslim hendaknya mengucapkan salam
4 Urusan dunia tidak usah dikaitkan dengan agama
5 Iman itu bermanfaat sekali untuk menentramkan jiwa
6 Mengucapkan do’a sebelum tidur sebaiknya digalakkan


Adapun cara penilaiannya adalah sebagai berikut :
Untuk pernyataan positif ;SS = 5, S = 4, N = 3, TS = 2, STS = 1. Pernyataan positif ada pada no 1,3,5
Untuk pernyataan negatif; SS = 1, S = 2, N = 3, TS = 4, STS = 5. Pernyataan negatif ada pada no 2,4,6.
Skor maksimum yang dapat dicapai adalah 6 (butir penyataan) x 5 skor maksimum adalah 30. Skor minimumnya 6 (butir pernyataan) x 1 skor minimum adalah 6.
Perbedaan jumlah angka yang dicapai oleh siswa dapat ditafsirkan sebagai perbedaan sikap, positif atau negatif mereka dalam setiap keagamaan
Pengukuran afektif pada umumnya dilakukan secara tidak langsung dan sangat tergantung pada laporan diri atau self report. Hasil pengukuran yang demikian sangat dipengaruhi oleh kejujuran dari responden dalam merespon pernyataan yang adal dalam instrumen.
















C. KESIMPULAN
Makalah ini mencoba menguraikan hal-hal yang terkait dengan afektif khususnya permasalah evaluasi. Dari paparan diatas kesimpulan yang dapat kita tarik antara lain :
1. Evaluasi domain yang jarang dilaksanakan secara massal di sekolah adalah afektif karena tolok ukur yang digunakan belum lazim diberlakukan. Kurikulum pendidikan nasional lebih banyak memberikan porsi evaluasi pada kognisi dan psikomotorik
2. Kesulitan yang dihadapi dalam melakukan evalusi afektif adalah menyangkut tolok ukur dan pemanfaatnya. Karena ranah yang diukur bekenaan dengan perasaan, motivasi, emosi dan stimulus seseorang
3. Beberapa teknik yang ditawarkan untuk melakukan evaluasi afektif dengan cara antara lain : observasi, teknil unobtrusif, interview, pertanyaan terbuka, pertanyaan tertutup, skala.
4. Model skala Likert merupakan skala pengukuran sikap yang paling banyak digunakan disamping skala Thurston, Skala Gutman dan perbedaan semantik.
Kami menyadari makalah ini merupakan pembahasan awal dengan banyak mengutip pendapat para ahli pendidikan yang entah kapan kita diberi waktu untuk melakukan perencanaan matang dalam mempraktekannya. Semoga dengan deskripsi ini kita dapat melakukan pembelajaran yang lebih mendalam lagi.



DAFTAR PUSTAKA
Bloom dkk, Evaluation to Improve Learning, McGraw Hill inc, 1971
Ibnu Hadjar, Evaluasi Hasil Belajar Afektif Pendidikan Agama, Problem Konseptual dan pengukuran, Pidato pengukuran Guru Besar dalam Ilmu Evaluasi Pendidikan, IAIN Walisongo, 2006
Mawardi lubis,dkk, Evaluasi Pendidikan Nilai, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2008
Munawar Kholil, Perancangan Kurikulum .www. members.tripot.com
Ramayulis, Ilmu Pendidikan Agama Islam, Kalam Mulia, Jakarta, 2003
Ramayulis, Metodologi Pendidikan Agama Islam, Kalam Mulia, Jakarta, 2005
Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, Bumi Aksara, Jakarta, 2006
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian suatu pendekatan praktik, Rineka Cipta, 2006
www.educationinformationresources.com/articles/view/id-242

Tidak ada komentar:

Posting Komentar